Bisnis Jual Beli Mimpi Anak Muda Indonesia

14:08

Saat ini Indonesia sudah mulai memasuki fase bonus demografi dengan jumlah penduduk produktif usia 15-29 tahun mencapai 65 juta orang (sumber Kompas 05/05/2015). Fase ini memiliki potensi besar karena dominasi anak muda dianggap dapat menanggung beban dari usia tidak produktif dan memperbaiki kondisi perekonomian. Fase ini akan terus berlanjut sampai puncaknya pada tahun 2028-2031. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, wajar kiranya jika anak muda menjadi target bisnis yang paling menggiurkan. Bisnis dan organisasi non profit, profit-oriented, sampai social enterprise yang menyasar anak muda pun bermunculan.

Hal ini juga dapat dilihat dalam ranah bisnis event organizer. Kiranya sudah tidak terhitung berapa poster seminar, konferensi, dan pelatihan dengan target anak muda yang sudah kita lihat. Biaya yang ditawarkan variatif, dari mulai gratis sampai jutaan Rupiah. Mereka memanfaatkan momentum dan karakter anak muda yang memiliki mimpi besar untuk menjadi agent of change. Tentu saja tidak salah karena bisnis tidak akan muncul tanpa ada demand yang tinggi. Tapi apakah model bisnis seperti ini menguntungkan bagi kedua belah pihak? Apakah semangat yang didapat sifatnya temporer atau berkelanjutan?

Plenary Session di Malaysia Tourism Center Conference Hall

Saya.pribadi merasa menyesal karena kurang mengambil kesempatan saat kuliah. Kalau saja saya pernah ikut pertukaran pelajar atau konferensi di luar negeri tentu masih bisa meminta bantuan dana. Maka saat ini saya sangat rajin mencari kegiatan-kegiatan yang bisa diikuti. Mumpung saat ini saya masih self-employed dan memiliki kebebasan mengatur waktu. Ketika melihat website ALC 2015, saya merasa acara ini sangat cocok dengan tujuan saya untuk mengembangkan diri di bidang entrepreneurship. Oh ya, darimana kita bisa mendapat info tentang kegiatan seperti ini? Saya merekomendasikan untuk follow Twitter @KampusUpdate dan @IDStudentJob.

PENGALAMAN KONFERENSI
ASEAN Leaderpreneur Conference 2015 (ALC 2015) diinisiasi oleh ASEAN YouthPreneur Community (AYPC). Acara diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada 7-10 Mei 2015 lalu.

Deskripsi acaranya akan saya kutip dari proposal.
"As a university students and youth among ASEAN Countries, we have responsibilities and rights to contribute to solve this problems. Therefore, we want to create a forum to accommodate all ideas of students and youth among ASEAN Countries and meet them with the expert to make sure that their ideas are accommodated. Furthermore, they will enhance more understanding and knowledge about how to contribute to the ASEAN Economic Community (AEC) 2015 and what we need to be one as an ASEAN Community."

Proses seleksinya cukup mendaftar online saja. Menyebutkan apa yang ingin didapat, pendapat tentang leaderpreneur, ide untuk Indonesia, dan sebagainya. Saya sendiri menulis tentang pentingnya design awareness dalam iklim kewirausahaan di Indonesia (semoga bisa saya tulis secara terpisah setelah ini)Dalam formulir disebutkan bahwa akan ada proses seleksi, maka saya senang sekali ketika tahu saya lolos. Kesempatan untuk mengembangkan diri sebagai seorang entrepreneur!

Official Poster ALC 2015

Biaya kegiatan ini adalah sebesar USD 165 dan harus ditransfer ke Bank Malaysia. Biaya meliputi hotel, makan, dan rangkaian kegiatan. Sesuai kurs dan biaya transfer antar negara saya membayar IDR 2.500.000. Biaya tersebut belum termasuk tiket pesawat yang berkisar IDR 1.000.000 PP.

POKOK PERMASALAHAN
Saat guide book dikirim via email saya mulai curiga. Kenapa hanya ada 100 peserta dan semua dari Indonesia? Saat itu saya pikir guide book ini khusus peserta dari Indonesia, tapi ternyata memang hampir seluruh peserta dari Indonesia! Setahu saya hanya ada 1 peserta dari Thailand. Bahkan Malaysia selaku tuan rumah pun tidak mengirim delegasi sama sekali.

Saya jadi bingung, apanya yang ASEAN? Ini kan sama saja mengadakan acara seminar dengan pembicara internasional. Tidak perlu susah-susah ke Kuala Lumpur, di Jakarta pun bisa. Sangat tidak sesuai ekspektasi dan jujur saya merasa tertipu. Salah satu tujuan saya kan ingin memperluas networking, apabila ditinjau dari pembicara saja acara ini jelas tidak appealing jika dibandingkan dengan biayanya. Saya kira pihak ASEAN perlu mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang mencatut nama ASEAN agar tidak sembarangan menggunakan nama sebagai pemancing peserta.

Masalah peserta ini panitia menanggapi bahwa mereka memiliki beberapa partner (seperti yang tercantum pada poster di atas) namun karena suatu masalah kinerja partner tidak optimal. Partner tidak dapat mengumpulkan peserta dan saat hari H tidak dapat dihubungi sehingga koordinasi kacau. Akibatnya panitia dari Indonesia yang hanya 7 orang harus menanggung semuanya. Serius? Apa tidak bisa diantisipasi atau dibatalkan saja acaranya? Kenapa koordinasi acara berkelas internasional bisa lebih buruk dari acara OSIS SMA? Walaupun tahu ada yang janggal, toh pada akhirnya panitia tetap menjalankan acara dengan segala konsekuensinya.

Salah satu konsekuensi terberat adalah seluruh rangkaian acara sangat terlambat dan terkesan tidak siap. Dari rundown yang dibagikan saya sangat menunggu-nunggu focus group discussion (FGD), gala dinner, dan KL Race. Memang saya tidak beruntung, ketiga acara tersebut tidak ada yang dilaksanakan. Saya ingin ikut FGD karena besoknya saya akan mengikuti seleksi LGD untuk seleksi beasiswa LPDP. Hitung-hitung belajar. Kenyataannya karena acara yang sangat sangat terlambat acara ini harus dibatalkan. Saya pun tidak sempat mengutarakan pendapat. Bukan bertanya ya, tapi berdiskusi. Tanpa FGD jelas konferensi ini tidak berbeda dengan seminar biasa.

Saya yang mengasosiasikan gala dinner dengan makan malam mewah lengkap dengan appetizer, main course, dan dessert juga harus berujung kecewa. Ternyata pelaksanaan hanya makan nasi kotak di atas rooftop hotel. Rasanya disini lah kekesalan peserta mulai muncul. Apalagi esoknya KL Race dibatalkan dengan alasan banyak peserta yang ingin mengeksplorasi Kuala Lumpur. KL Race pun diganti kegiatan jalan-jalan secara independen. Saya tidak habis pikir, kenapa harus mengatasnamakan keinginan peserta kalau sebetulnya panitia yang tidak siap? Akhirnya peserta banyak yang langsung check out dari hotel karena kecewa. Closing ceremony pun dibatalkan.

Untuk menghormati panitia saya hanya menulis secara garis besar saja, apabila masih penasaran bisa kontak saya secara personal ya.

Lucunya sewaktu SD saya pernah menjadi duta terpilih untuk Konferensi Anak Majalah Bobo dan acaranya malah jauh lebih terorganisir. Kami yang masih kecil-kecil itu berdiskusi dan pada hari terakhir menelurkan deklarasi tentang menjaga lingkungan hidup. Deklarasi itu dibacakan, dimuat di majalah Bobo, dan akan direkomendasikan untuk kementerian terkait. Wah saat itu saya senang sekali karena merasa bisa membuat sedikit perubahan.

KEBIJAKAN PENGEMBALIAN DANA
Berhubung saya membiayai acara ini 100% dengan uang sendiri-mulai dari kegiatan sampai tiket pesawat-rasanya sangat masuk akal untuk meminta refund. Beberapa peserta setuju, beberapa tidak. Ada juga yang meminta refund karena dibiayai kampus dan tidak siap apabila diminta pertanggungjawaban dana. Saya kira yang tidak setuju tentu masih dibiayai orang tua sehingga belum ngeh betapa besarnya uang tersebut apalagi untuk seorang fresh graduate.

Pada 10 Mei saudara Y selaku general secretary AYPC menyebutkan solusi, "Refund perihal acara yang tidak kalian dapatkan atau kalian merasa dizalimi." Wah saya merasa bersyukur sekali dan segera membuat surat pernyataan rinci. Saya juga berpegang pada prinsip bahwa kesalahan harus diberi tahu supaya bisa dievaluasi dan jadi lebih baik. Saya sangat berharap surat saya dapat dipertimbangkan. Tapi ternyata tidak.

Refund dipukul rata dan hanya sebesar IDR 145.000! Jika dihitung hanya 7% bahkan tidak sampai 10% atau seharga satu tiket pesawat. Apa iya sampai saat terakhir peserta yang jelas-jelas rugi pun masih harus memaklumi panitia? Apa gunanya meminta penjelasan dari acara yang tidak didapatkan?

Apabila Surat Pernyataan saya ditanggapi dengan baik melalui proses negosiasi secara personal pun sebenarnya tidak apa-apa. Sebetulnya orang-orang seperti saya hanya penasaran sejauh apa kemampuan panitia dalam mengatasi masalah. Dalam pikiran saya dari 50% yang saya minta mungkin saya bisa mendapat 25%. Tapi ternyata tidak.

Saya tidak tahu seberapa besar kerugian panitia atau bagaimana 'kesialan' mereka yang salah memilih partner dalam acara dapat terjadi. Pada kejadian ini panitia selalu menyebut dirinya sebagai korban tapi saya tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskannya karena memang tidak mengerti. Sebagai informasi saya sudah tidak menuntut apapun dari panitia karena yang bersangkutan sudah minta maaf secara personal bahkan berterimakasih atas kejujuran saya, maka disini saya hanya ingin berbagi.

Saya memutuskan untuk menulis pengalaman ini dengan tujuan agar anak-anak muda Indonesia yang sedang semangat-semangatnya ingin aktif dan berkontribusi lebih (atau memoles CV) berhati-hati dalam memilih kegiatan, apalagi yang biayanya lumayan. Jangan tergiur dengan embel-embel ASEAN atau acara yang diadakan di luar negeri. Yang terpenting adalah lihat dulu siapa penyelenggaranya. Apakah track record-nya bagus? Apakah ini acara pertama mereka? Apakah posternya well-designed? (Maaf kebiasaan dari kuliah) Ambil contoh AISEC, walaupun kita harus menanggung seluruh biaya sendiri kita dapat melihat review positif dari para pesertanya.

SISI POSITIF
Ada 3 sesi seminar yang diadakan pada ALC. Ketiganya mengundang pembicara-pembicara profesional yang telah sukses di bidangnya masing-masing. Pada sesi pertama di plenary hall memang tidak terlalu banyak yang tersampaikan karena harus mengejar Jumatan. Yang paling saya ingat adalah tips dari Anna Karina Jardin tentang goal setting. Kebanyakan dari kita hanya membuat list saja tapi tentu tidak cukup. Goal harus dibuat specific, measurable, attainable, dan time-bound. Hal terakhir ini yang sering terlupakan. Kita harus mengerti kapan suatu goal harus berhenti dikejar karena tidak lagi relevan. Cerita dari Aishah Zahari tentang NUS Startup Runway juga menarik. Disini ia dan teman-temannya memiliki launchpad startup di sebuah lot. Tadinya lot ini sepi tapi sekarang sudah membawahi ratusan startup. Jadi penasaran ingin kesana.

Sesi seminar kedua lebih menyenangkan karena ruangannya bagus! Kami ditempatkan di ruang konferensi dengan meja melingkar dan microphone di setiap kursinya. Seandainya proses diskusi yang dilakukan disini, bukan hanya tanya jawab seminar, tentu akan sangat seru. Salah satu pembicara yang paling inspiratif menurut saya adalah Aaron Gill, CEO GrabTaxi. Sampai sekarang saya punya satu pertanyaan yang tidak sempat ditanyakan karena terbatasnya waktu, apakah kita bisa melindungi ide yang sudah diluncurkan? Ketika saya mencari aplikasi GrabTaxi di smartphone, banyak juga aplikasi lainnya, tidakkah kita bisa mencegah hal tersebut? Hal ini sangat bertentangan dengan cerita salah seorang pembicara (saya lupa namanya) pemenang Startup Weekend. Ia sudah mendapat dana, tim yang oke, dan konsep yang viable tapi startup-nya gagal karena Gojek diluncurkan lebih dulu. Ya betul, ia memiliki konsep yang sama.

Ruang Konferensi di Universiti Kebangsaan Malaysia

Sesi ketiga yang seharusnya gala dinner mengundang Wempy Dyocta Koto, CEO Wardour & Oxford. Saya rasa kalau Pak Wempy lebih ke arah motivasi, bukan sharing pengalaman. Beliau bilang kebanyakan orang Indonesia stuck di budaya maklum dan apologetik. Beliau yang baru kembali ke Indonesia setelah bekerja di beberapa negara merasa budaya ini tidak bisa dibiarkan lagi. Agar maju anak muda harus berani bersuara, mengatakan sesuatu yang salah itu salah. Lebih baik lagi kalau membantu mencari solusi dari kesalahan yang ada dan mulai bertindak. Nah pernyataan inilah yang membuat peserta lebih vokal terhadap panitia dan saya berniat menulis.

Untungnya selama konferensi saya berkenalan dengan banyak orang-orang hebat. Mereka semua punya semangat untuk melakukan perubahan atau membangun Indonesia. Kadang kalau melihat kondisi anak-anak muda yang seperti ini saya jadi optimis dengan masa depan Indonesia. Sampai sekarang pun di grup LINE mereka masih saling share info mengenai acara-acara terkait entrepreneurship dan opportunity lainnya.

Saya tidak sempat kemana-mana karena besoknya ada wawancara LPDP. Tapi saya cukup senang dan kagum sekali dengan transportasi publik di Malaysia. KRL-nya sangat terorganisir, tepat waktu, dan semua sistem dilakukan dengan mesin. Saya naik KLIA Ekspress dan keretanya benar-benar sampai di bandara! Tidak perlu naik angkutan umum atau jalan kaki lagi, saya sudah berada di underground bandara. Saya juga sempat baca ada kereta yang langsung persis berhenti di depan Batu Cave. Wah pantas banyak orang Indonesia senang ke Malaysia dan Singapura, transportasi umumnya sangat ramah. Beda dengan daerah di Indonesia yang kebanyakan mengharuskan menggunakan kendaraan pribadi.

KRL Ekspress ke Bandara KLIA 2 seharga RM 26.5

KESIMPULAN
Poin yang ingin saya sampaikan adalah: meraup keuntungan dari mimpi dan semangat anak muda harus disertai tanggung jawab. Apa kalian-penyelenggara acara-yakin dapat mengakomodasi pemikiran mereka, menyalurkannya, dan memberi banyak manfaat? Jika tidak, jangan pernah berpikir untuk membuat acara untuk gaya-gayaan saja.

Percayalah bahwa semakin worth-it acaranya semakin murah bahkan gratis biayanya. Acara semacam ini punya visi yang jelas dan akhirnya bisa menarik banyak sponsor. Pemilihan pesertanya jelas lebih ketat tapi jika bisa lolos pasti bangganya luar biasa. Contoh acara yang sedang berlangsung saat ini adalah IDEA Fest dan ASEAN Youth Creative Industry Fair (AYCIF). Jika penasaran silakan buka website-nya dan disitu tertera bahwa peserta yang lolos tidak dikenakan biaya apapun.

Ingat juga bahwa nama baik mahal harganya dan menimbulkan kekecewaan itu priceless. Sebagai seorang entrepreneur, justru inilah pelajaran terbesar yang dapat saya ambil. Saya akan berusaha lebih keras dalam bekerja dan memenuhi kebutuhan pembeli terlepas dari apapun masalah yang ada. Bagaimanapun juga dalam dunia kerja kita tidak dinilai dari proses, tapi hasil.

Di luar hal tersebut anak muda mesti paham bahwa semangat apapun yang didapat saat seminar atau acara motivasi hanya bersifat sebagai katalis. Apakah akan berlanjut mengantar ke kesuksesan atau tidak tergantung pada diri sendiri. Mindset ini harus ditanamkan dalam setiap penyelenggaraan acara. Kalau kamu sangat suka membaca seperti saya, itu sudah cukup jika tujuan utamanya hanya untuk belajar (bukan networking atau pengalaman). Ketika ALC kemarin pembicara sempat mengulas buku Emotional Intelligence, The Lean Startup, dan Business Model Generation yang semuanya sudah saya baca. Inti dari yang dibicarakan dan yang ada di buku sama kok.

Harapan saya semoga semakin banyak acara yang tulus ingin membantu mengembangkan potensi anak muda di Indonesia dan dikelola secara profesional. Saya tidak kapok mencari acara-acara menarik lainnya yang bisa diikuti. Mudah-mudahan pada post berikutnya saya bisa menulis cerita yang inspiratif.

You Might Also Like

0 comments