Memilih Produk Bersertifikasi

15:33

Beberapa bulan terakhir kebakaran lahan dan kabut asap di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi terus menjadi berita utama tanpa perbaikan berarti. Banyak korban kehilangan pekerjaan, sakit, bahkan meninggal dunia. Belum lagi dampaknya pada hewan-hewan liar dan lingkungan serta mempercepat pemanasan global. Tepat rasanya apabila JakartaGlobe menganggap bencana ini adalah kejahatan lingkungan terbesar di abad ke-21.

Penyebab kebakaran lahan dan kabut asap
(Sumber: data pribadi)

Tapi sejujurnya bagi saya bukan ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasi masalah dengan cepat, ketidaketisan korporasi, atau lemahnya integritas lembaga penegakan hukum di Indonesia yang membuat saya sangat kecewa. Semua faktor tersebut adalah dampak, sedangkan jika kita harus mencari penyebab kabut asap akan sangat rumit, bahkan perlu juga mengkaji sisi historis dimana kebijakan-kebijakan Presiden Soeharto patut disangsikan. Kabut asap tahun ini adalah titik puncak dari akumulasi kelalaian selama bertahun-tahun sebelumnya.

Maka yang membuat saya marah adalah, disini saya duduk dan mengetik dengan nyaman tanpa bisa melakukan sesuatu yang signifikan. Tentu saja saya sudah melakukan tindakan-tindakan minor untuk membantu, tapi apakah itu cukup? Karena itu saya memutuskan untuk mengkampanyekan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengkurasi isi keranjang belanjaan. Hal yang sepertinya kecil, tapi bisa menjadi signifikan apabila dilakukan sebagian besar penduduk Indonesia. Misalnya tanpa disadari, penyebab kabut asap ada di dekat kita dan digunakan setiap hari, yaitu minyak kelapa sawit. Bagaimana mungkin kita bisa menyalahkan korporasi atau pemerintah? Kita adalah konsumen setianya, mungkin juga Anda membaca ini sambil makan sepotong gorengan.

Salah satu cara untuk memilih produk ramah lingkungan, sehat, dan berkelanjutan (sustainable) adalah dengan memperhatikan sertifikasi. Artinya produk tersebut sudah diaudit dan memenuhi standar tertentu baik dari bahan baku, kemasan, maupun manajemen perusahaan secara keseluruhan. Di luar negeri sertifikasi sudah sangat umum, namun di Indonesia sertifikasi yang sudah cukup umum hanya sertifikasi halal MUI dan standar kesehatan BPOM saja. Sertifikasi dapat dilihat melalui logo di kemasan produk. Beberapa sertifikasi yang ada adalah sebagai berikut.

Beberapa logo sertifikasi yang dapat ditemukan di kemasan produk
(Sumber: website masing-masing lembaga sertifikasi)

BPA Free: bebas bisphenol A (untuk kemasan plastik).
CSPO: sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan, untuk perusahaan maupun pertanian.
Indonesian Legal Wood: bahan baku lulus uji sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK).
Forest Stewardship  Council (FSC): produksi dan konsumsi hasil hutan yang bertanggung jawab.
Fairtrade: standar perdagangan bebas (impor) yang adil.
Rainforest Alliance (RA): bahan baku berasal dari peternakan, lahan pertanian, maupun hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.
InSWA Green Label Indonesia (IGL): bahan baku ramah lingkungan.
ISO 14001: sistem manajemen berbasis lingkungan.
ISO 22000: sistem manajemen keamanan pangan.
ISO 9001/9002: sistem manajemen mutu.
OHSAS 18001: standar keselamatan dan kesehatan pekerja.
SNI: uji standar nasional indonesia, penomoran berdasarkan jenis produk.

Untuk menemukan produk-produk bersertifikasi, saya melakukan observasi di sebuah supermarket di daerah Bandung. Apabila produk yang biasa Anda gunakan tidak terdapat dalam tabel di bawah ada 3 kemungkinan, yaitu: (1) produk tidak terdapat di supermarket; (2) produk tidak atau belum mencantumkan sertifikasi pada kemasan; dan (3) produk memang tidak ramah lingkungan. Bukan berarti nama PT yang tercantum disini semua produknya otomatis berkualitas sama. Kenyataannya satu korporasi pasti memiliki beberapa lini produk, bahkan jenis produk sama dengan merek berbeda (misalnya Indomie dan Sarimi sama-sama diproduksi PT Indofood). Biasanya perbedaan disesuaikan dengan target konsumen.

Disini saya tidak ingin mendiskreditkan produk tertentu dan tidak pula berpromosi, saya hanya ingin mengajak konsumen agar lebih cerdas dalam memilih produk. Intinya, perhatikan tulisan pada kemasan. Produk-produk bersertifikasi yang saya temukan dapat dilihat pada tabel berikut.

Daftar produk bersertifikasi
(Sumber: data pribadi)

Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa sertifikasi yang paling sering digunakan adalah SNI. Namun SNI merupakan sertifikasi bahan baku dan pengolahan produk. Darimana bahan baku tersebut didapatkan tidak termasuk tolak ukur karena secara konteks termasuk ke dalam sertifikasi ISO (sistem manajemen dan perusahaan) maupun sertifikasi lainnya. Contohnya produk berbahan dasar kayu harus memiliki sertifikasi Indonesian Legal Wood sedangkan produk minyak kelapa sawit harus memiliki sertifikasi sustainable palm oil dari RSPO, namun sayang sekali belum ditemukan. Saya juga mencatat banyak sekali produk yang tidak memiliki sertifikasi SNI.

Maka disini memilih produk ber-SNI bisa berarti memilih produk yang lebih baik, tapi tidak bisa menjamin bahwa produk tersebut sepenuhnya berkelanjutan karena tidak memiliki sertifikasi yang cukup, terutama terkait bahan baku.  Untuk itu saya menyarankan kepada pemerintah untuk meningkatkan kesadaran perusahaan dalam mengurus sertifikasi sebagai tindakan preventif menanggulangi bencana lingkungan maupun sosial yang tidak diinginkan.

Sedangkan untuk setiap individu, saya harap kita dapat lebih teliti sebelum membeli. Setidaknya sekarang Anda sudah tahu harus memilih produk apa. Tidak ada salahnya membaca infomasi di kemasan produk sebelum membeli, bukan hanya membanding-bandingkan harga. Padahal apabila ditinjau dari dampak jangka panjang, harga murah tersebut bisa jadi harus dibayar dengan rusaknya lingkungan yang sama sekali tidak ternilai. Apabila Anda memiliki toko, saya juga memohon agar berani menolak produk-produk yang tidak ramah lingkungan agar tercipta urgensi pengurusan sertifikasi produk di Indonesia. Jika tidak begini mudah saja korporasi berargumen, "Buat apa? Indonesia tidak peduli sertifikasi, Indonesia peduli harga murah."

Saat ini tengah dilakukan penyidikan terhadap korporasi yang bertanggung jawab atas kebakaran lahan. Tentu saja kita berharap segera dapat ditemukan bukti-bukti definitif untuk mempermudah prosesnya. Kasus ini harus diusut tuntas agar selanjutnya kita dapat memboikot korporasi beserta produk-produknya sebagai bukti tindakan tegas konsumen.

Artikel terkait:
Indonesia’s Fire Crisis; The Biggest Environmental Crime of The 21st Century
Indonesia’s Massive Haze Problem is Jokowi’s Big Opportunity
Know What You Buy, Choose Local Product
Walhi: Berikut Korporasi-Korporasi di Balik Kebakaran Hutan dan Lahan

You Might Also Like

9 comments

  1. Bagus ul bagus! Sarannya tambahin juga tulisan tentang daftar kosmetik yg cruelty free gituuu hehe. Soalnya masih byk yang ga peduli dan gatau tentang animal testing huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengen sih tapi masalahnya kalau diliat dari sisi negatif, penelitiannya harus lebih dalem lagi, mesti ada buktinya... Makanya ini cuma sebatas ngulas dari sertifikasi yang keliatan jelas aja :)

      Delete
  2. sertifikasi menrut saya sama temen dari mesin, itu cuman bisnis sertifikat. yang punya biaya untuk sertifikasi pasti bisa dapet sertifikat itu. kaya sarjana abal abal. ahahah :D. kan perusahaan yang orientasinya sama produk pasti akan berusaha untuk merancang produk yang kualitasnya melampaui standard biar si konsumen puas. nah yang bikin sakit hati bagi para desainer produk adalah ahahah ketika ada perusahaan yang merancang produk dan ternyata targetnya yang penting lulus sertifikasi. jadi Produk yang punya kualitas asli diatas standard buatan dp, jadi bisa disamain sama yang pas-pasan standardnya. bedanya adalah perusahaan yang produknya standar itu dia punya biaya yang kuat jadi bisa menutupi kelemahan produknya dengan marketing. biasanya yg gitu yang punya adalah Cin*a

    ReplyDelete
  3. note; saya pernah nyoba ngurus sertifikasi sni sama iso dan biayanya woooohooooooo besaar sekali, sni itu murah tapi kalo ingin sni harus punya iso minimal iso 2008, dan kalo ingin iso harus bla-bla-bla dulu dan punya duiiiiittt. kan ....... jahat.:D (currhat)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang cukup berat apalagi untuk UKM, tapi disini penekanan saya ke korporasi-korporasi besar yang ternyata banyak yang tidak punya sertifikasi padahal selama ini dikenal dengan social campaignnya sebagai brand 'baik' (bisa dilihat di list di atas).

      Kalau masalah produk dengan target lolos sertifikasi, saya rasa tidak masalah apalagi kalau produknya berorientasi ke ekspor karena sertifikasi menjadi kewajiban. Kita belum bisa berargumen sertifikasi sama dengan sarjana abal-abal karena berupa spekulasi, dimana buktinya? Nah kalau produknya jauh di atas standar (dan ada modal) pasti lolos sertifikasi juga. Sisanya adalah tugas tim branding dan marketing. :)

      Delete
    2. Setuju, sertifikasi ini ga bisa disamakan dgn ijazah abal2. Saya harap lebih banyak produk bs lolos sertifikasi ramah lingkungan/ fairtrade. Sebagai pecinta buku saya harap penerbit2 Indonesia jg mulai concern sm bahan baku buku mereka. Kl buku impor biasanya sdh FSC, majalah jg ada yg dr recycled paper.

      Delete
    3. Setuju! Suka banget sama buku ber-bookpaper yang warnanya kekuningan, selain ringan wanginya juga enak

      Delete
  4. Hanya menambahkan sedikit. Sebenarnya produk turunan CPO itu tidak hanya minyak goreng. Ini yang banyak disalah artikan masyarakat yang katanya mau memboikot pembelian minyak goreng. Produk akhir minyak goreng hanya kurang dari 20% produksi CPO. Paling banyak itu adalah produk2 turunan oleokimia seperti detergen, kosmetik, sabun, dll. Sebagai gambaran saya coba googling http://bppmd.kaltimprov.go.id/file/buku/bk_ousWjXHUTfU.pdf

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih ya atas info tambahannya. Kemarin saya juga coba cek kemasan produk-produk sabun, detergen, dsb yg biasa terdapat di supermarket tapi tidak menemukan sertifikasi sama sekali, jadi tidak saya sebutkan di tabel di atas.

      Delete