Bisnis Desain Grafis

16:14

Belakangan ini pekerjaan di bidang desain grafis semakin sering dicari masyarakat luas. Akan tetapi masih banyak orang yang menganggap pekerjaan seorang desainer grafis sebagai hobi atau pekerjaan 'ringan' dan berimbas pada ketidaktahuan akan biaya proyek desain grafis. Celakanya banyak pula 'desainer' yang tidak paham dalam menghargai karyanya, sehingga terjadi kompetisi kurang sehat di keprofesian ini. Padahal sudah seharusnya desainer ikut mengedukasi kliennya. Kasus semacam ini lah yang menjadi pemicu Surianto Rustan, seorang pengajar sekaligus desainer grafis, menulis buku berjudul Bisnis Desain.

Buku ini sangat cocok untuk pemula atau mahasiswa desain grafis. Seringkali sebagai desainer kita hanya mendapat masukan soal kreativitas dan teknik saja, namun tidak memperhatikan bagaimana kemampuan kita dapat dibisniskan, menguntungkan, dan menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. Dengan mengajak beberapa agensi desain grafis seperti Kamayi, Evomaya, Paprieka, dan Yeiy! Animation sebagai kontributor, penulis menyuguhkan kiat-kiat aplikatif untuk pembaca yang ingin terjun di bidang desain grafis.

Keputusan pertama yang harus diambil seorang desainer grafis adalah memilih waktu kerja full time atau part time dan freelance atau bekerja sebagai pegawai di agensi. Dalam menulis tips, penulis berusaha mengakomodasi kebutuhan 4 tipe desainer grafis ini dan menunjukkan kelebihan serta kelemahan masing-masing tipe.


Selanjutnya desainer perlu memahami workflow. Tidak cukup hanya dengan portofolio yang menarik, desainer juga harus ditunjang sistem kerja profesional. Beberapa hal yang harus dipahami, diantaranya: creative brief dari klien, menyusun proposal proyek lengkap dengan beberapa alternatif desain, dan pembuatan kontrak. Termasuk dalam kontrak adalah harga dan prosedur pembayaran (misalnya langsung lunas atau ada down payment), ruang lingkup desain yang dibuat (misalnya jika klien meminta desain menu, pastikan apakah fotografi makanan dikerjakan oleh desainer atau sudah disediakan), deadline, serta jumlah revisi maksimum.


Menentukan harga bagi desainer permanen tentu tidak rumit karena mengikuti kebijakan agensi dan tetap mendapat gaji bulanan di luar bonus proyek. Sementara bagi desainer freelance, caranya adalah dengan menentukan hourly rate yang didapatkan dari pengeluaran per tahun dibagi jumlah jam kerja. Hourly rate kasar ini kemudian ditambahkan margin keuntungan yang dikehendaki. Desainer juga bisa menambahkan markup yang gunanya untuk proses tawar-menawar harga dengan klien. Nyatanya walaupun sama-sama membayar 1 juta untuk proyek yang sama, klien yang mendapatkan harga lewat proses tawar menawar akan merasa lebih puas.

Setelah nominal hourly rate + margin + markup ditemukan, desainer baru menentukan project rate dengan cara mengira-ngira berapa banyak waktu yang dibutuhkan saat mengerjakan proyek. Waktu yang dihitung termasuk meeting dengan klien, membuat desain, dan produksi jika diminta. Cara menentukan hourly rate dan project rate untuk desainer freelance dapat dilihat pada gambar berikut.


Ketika desainer mulai terbiasa menerima proyek, desainer dapat mengajukan flat rate yang dibuat dalam bentuk rate card. Tentunya flat rate bukan harga asal, melainkan didapatkan dari rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek dari pengalaman sebelumnya. Rate card dibuat seperti buku menu dimana klien bisa memilih apa saja kebutuhannya. Dalam membuat rate card desainer harus memperhatikan unsur marketing. Salah satu caranya adalah dengan membuat bundle pricing. Sebagai contoh desain logo sekaligus brand identity seperti kartu nama dan letterhead lebih murah dibanding mengambil kedua proyek secara terpisah.


Di luar hal-hal krusial di atas, buku ini juga mengulas info tambahan seperti sejarah desain grafis, lapangan pekerjaan desainer grafis, dan etika desain grafis. Dengan konten informatif dan ilustrasi full colour yang ramah dipandang mata, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk orang-orang yang ingin memulai bisnis desain.

***

BUKU
Bisnis Desain
Surianto Rustan
Batavia Imaji
2015

SUMBER GAMBAR
www.suriantorustan.com
Dokumen dan ilustrasi pribadi

You Might Also Like

0 comments