Sistem Kuliah Magister di Inggris

06:30

Jika kamu ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, selain menentukan target universitas sesuai program studi, ada baiknya melakukan riset tentang negara yang akan dituju. Riset bisa dilakukan melalui diskusi dengan kenalan, blogwalking (salah satu website yang sangat informatif adalah Indonesia Mengglobal), atau bertanya langsung ke Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) negara setempat.

Contoh nyatanya, jika tidak tahan dingin ada baiknya tidak memilih negara Skandinavia atau jika memiliki tanggungan keluarga, harus siap dengan asuransi kesehatan di Amerika Serikat yang menguras kantong. Hal-hal ini bisa jadi kecil, tapi akan berpengaruh bagi kondusivitas belajar. Dalam tulisan ini saya akan berbagi cerita mengenai sistem kuliah magister di Inggris / UK, khususnya kota Glasgow, Skotlandia.

Saat ini saya berkuliah di jurusan Creative Industries & Cultural Policy, School of Culture & Creative Arts, University of Glasgow. Seperti studi magister di Inggris pada umumnya, studi ini ditempuh dalam waktu dua semester atau satu tahun. Waktu yang cukup singkat dan sering jadi alasan banyak pelajar memilih melanjutkan studi di Inggris, walaupun harus diingat juga waktu yang singkat sama dengan jadwal yang makin padat, belum lagi ditambah waktu beradaptasi. Tetapi ada juga beberapa studi magister yang ditempuh selama dua tahun, tergantung kompleksitasnya.

Di Inggris ada dua pilihan metode kuliah, yaitu taught programme (gelar MSc/MA/MEng/etc) dan research programme (gelar MRes). Jurusan saya adalah taught programme dengan kelas kecil, hanya berisi 16 orang saja. Saya sangat mensyukuri hal ini karena suasana belajar lebih intim, baik dengan dosen maupun dengan sesama mahasiswa. Rasanya bertanya dan berdiskusi di kelas lebih tidak canggung. Tentu saja tulisan ini tidak bisa menyamaratakan seluruh sistem kuliah di Inggris, oleh karena itu saya menulis latar belakang sebagai bahan perbandingan.


PROSES BELAJAR

Main Building University of Glasgow
(Source: www.gla.ac.uk)

Perkuliahan magister dimulai dari bulan September atau Oktober di universitas tertentu. Secara umum pembagian waktu kuliah di Inggris adalah sebagai berikut: semester 1, winter break, semester 2, dan summer break yang sebenarnya adalah waktu pengerjaan disertasi. Waktu untuk wisuda biasanya di akhir tahun dan memiliki jarak yang cukup jauh setelah pengumpulan disertasi, maka banyak mahasiswa Indonesia yang memilih untuk pulang tanpa mengikuti wisuda.

Mengenai proses belajar, hal pertama yang membuat saya agak bingung adalah ada beberapa tipe kelas untuk satu mata kuliah, yang berarti jadwal dan ruangan kelas pun berbeda-beda. Ada lecture (kuliah biasa megenai materi), seminar (mengenai studi kasus, sering menghadirkan pembicara tamu), tutorial (sesi kelas kecil dengan dosen, lebih ke arah diskusi membahas suatu tema), dan laboratory (kuliah praktik dengan konten variatif sesuai jurusan). Mahasiswa dibiasakan agar mandiri mengecek jadwal setiap minggunya, tidak seperti saat kuliah S1 dulu yang bisa hafal jadwal kuliah di luar kepala. Bagi mahasiswa yang satu jurusannya berisi ratusan mahasiswa, sesi tutorial hampir pasti jadi sesi yang paling menarik karena bisa mengeluarkan pendapat dengan lebih nyaman.

Di dalam kelas dosen disini lebih interaktif dan yang paling saya suka adalah terlihat passionate ketika mengajar. Mahasiswa dituntut untuk mengemukakan pendapat, tapi tidak perlu khawatir karena pendapat apapun selalu dihargai, meskipun disampaikan dengan grammar yang agak-agak berantakan. Dosen tidak pernah takut berbeda argumen dengan mahasiswanya, malah akan senang karena bisa berdiskusi. Dosen juga wajib memiliki office hour, sehingga kita bisa membuat janji untuk berkonsultasi di luar jam kuliah.

Sistem lain yang sangat pas untuk saya yang sangat terorganisir adalah course module yang sudah disusun lengkap untuk satu semester atau enam bulan ke depan. Tidak ada ceritanya kuliah kosong karena dosen sedang dinas atau kuliah tapi hanya mengerjakan tugas sedangkan dosen sibuk dengan proyeknya. Course module terdiri dari tema, penjelasan singkat mengenai materi, reading list untuk setiap pertemuan, beserta penjelasan mengenai tugas dan waktu pengumpulannya. Reading list sangat membantu untuk mempersiapkan diri sebelum memulai kelas sehingga kita sudah punya gambaran akan materi yang dibahas dan bisa menyiapkan pertanyaan jika ada yang belum dimengerti.


Moodle University of Glasgow
(Sumber: Dokumen Pribadi)

Hal unik lain dari sistem perkuliahan disini adalah penggunaan Moodle. Moodle berfungsi sebagai online board sekaligus forum yang berguna untuk menyimpan segala informasi terkait perkuliahan mulai dari slide presentasi kuliah, daftar reading list, jadwal, sampai tempat untuk mengunggah tugas. Penggunaan Moodle sangat mempermudah mahasiswa karena seluruh informasi sudah terdapat pada satu tempat dan selalu diperbaharui secara berkala oleh dosen dan staf.


SISTEM EVALUASI BELAJAR
Kalau di Indonesia absensi kuliah sangat berpengaruh, sampai-sampai titip absen menjadi kebiasaan yang lumrah, disini absensi sama sekali tidak diperhitungkan. Dosen sudah menyampaikan dengan jelas porsi penilaian, misalnya 30% assignment 1 dan 70% assignment 2. Dengan sistem ini mahasiswa benar-benar datang ke kelas karena ingin belajar atau karena mata kuliahnya menarik, bukan hanya sekedar memenuhi absen.

Mengenai ujian, terdapat perbedaan antara jurusan sains/teknik dan sosial/humaniora, terutama dari jenis ujian. Jurusan sains/teknik biasanya memberlakukan sistem exam sedangkan sosial/humaniora berupa essay atau project. Bagi beberapa mahasiswa tugas essay dinilai lebih tricky karena sistem penilaiannya yang tidak segamblang ujian dengan jawaban pasti. Ujian akhir di semester 2 diganti dengan pengerjaan disertasi. Walaupun draft sudah mulai disusun sejak Januari, pengerjaan efektif bisa dibilang hanya tiga bulan sebelum deadline.

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengerjakan essay dan disertasi adalah sistem pendeteksi plagiarisme yang ketat. Pihak kampus menggunakan software Turnitin untuk mendeteksi persentase kemiripan tulisan kita dengan artikel di internet, jurnal, dan buku. Bahkan sebelum mengumpulkan tugas apa pun, mahasiswa wajib menandatangani surat pernyataan bahwa tugas yang dikumpulkan hasil karya sendiri dan bebas plagiarisme. Saya juga baru tahu ada perbedaan antara citasi word for word dalam bentuk quote dengan paraphrase yang sebaiknya dilakukan. Sangat berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya di Indonesia yang asal mencantumkan referensi saja sudah tidak dipermasalahkan.


AKSES PERPUSTAKAAN

Social Study Space - University of Glasgow Library
(Sumber: www.university.which.co.uk)

Perpustaan di Inggris dikondisikan bukan hanya sebagai tempat menyimpan dan meminjam buku, tapi juga tempat belajar. Fasilitas yang ditawarkan sangat mengakomodasi kebutuhan mahasiswanya seperti internet cepat, mesin fotokopi dan printer, vending machine, kafe, area makan sekaligus membaca, area membaca tenang, area belajar lengkap dengan colokan listrik, dan area belajar kelompok. Perpustakaan juga dibuka sampai dini hari, bukan mengikuti jam operasional kampus. Sistem peminjaman buku dan pembayaran servis fotokopi tidak manual melainkan menggunakan scan barcode student id yang bisa di-top up sesuai kebutuhan. Lama peminjaman sangat bervariasi, untuk buku biasa mulai dari mingguan sampai bulanan, sedangkan untuk buku high demand (text book wajib) ada yang hanya 4 jam atau 24 jam saja.

Jika tidak sempat berkunjung ke perpustakan, mahasiswa bisa mengakses ebook dan jurnal melalui library website. Beberapa buku bisa dibaca secara daring dengan sistem yang sama, dimana terdapat pembatasan waktu dan tentunya buku tidak bisa diunduh karena terhalang hak cipta. Lain halnya dengan jurnal. Jurnal yang telah dibeli secara legal oleh universitas dapat diunduh dalam bentuk pdf. Apabila jurnal yang diinginkan belum dibeli, mahasiswa bisa mengajukan permohononan pembelian ke staf perpustakaan. Dengan fasilitas dan servis yang baik seperti ini, padatnya reading list jadi tidak terasa menyulitkan.


FASILITAS LAINNYA
Fasilitas yang diunggulkan dari berkuliah di Skotlandia adalah gratis biaya kesehatan di National Health Servive (dokter umum kalau di Indonesia) beserta obatnya. Setahu saya di Inggris / England biaya konsultasi gratis, tapi tidak termasuk biaya obat. Menurut senior saya, walaupun Skotlandia kurang diminati dibanding Inggris, pelayanan umumnya memang lebih baik. Selain itu jika harus membawa anak saat studi, fasilitas yang bisa didapatkan adalah sekolah gratis. Untuk lebih lengkapnya bisa berkunjung ke salah satu blog favorit saya, yaitu Mamarantau. Fasilitas yang sangat memudahkan penduduknya ini tentu saja dibarengi dengan pajak yang tinggi, untungnya international student akan mendapatkan tax exemption / bebas pajak.

Sebagai pelajar saya merasa banyak sekali privilage yang diberikan oleh pemerintah Inggris, khususnya masalah diskon. Banyak kartu keanggotaan atau event diskon yang khusus diadakan untuk pelajar, misalnya Buchanan Student Night yang diselenggarakan oleh Buchanan Gallery, sebuah shopping district di city center Glasgow. Hampir semua toko ikut berpartisipasi dan memberikan diskon sebesar 20% pada malam itu saja. Tapi walaupun sedang tidak ada event atau tidak memasang papan diskon, pelajar disini selalu menanyakan apakah suatu toko memiliki student discount atau tidak, karena lazimnya bisa mendapat potongan 10% dengan menunjukkan student id. Mahasiswa juga bisa berlangganan Amazon Prime secara gratis selama 6 bulan pertama.

Untuk yang suka belajar, student id universitas di Inggris dapat mengakses seluruh perpustakaan universitas di Britania Raya (biasanya di pintu masuk perpustakaan terdapat scan barcode student id sehingga tidak sembarang orang boleh masuk). Beberapa mahasiswa UoG (berlokasi di daerah West End) dari Indonesia yang tinggal di daerah city center biasanya menggunakan fasilitas perpustakaan dari Glasgow Caledonian University atau University of Strathclyde. Ada juga fasilitas free academic writing course yang termasuk di dalam tuition fee yang telah kita bayarkan. Kelas ini sangat berguna karena percayalah bahwa menulis akademik di Indonesia tidak ada apa-apanya dibanding dengan disini, belum lagi ditambah tidak menggunakan bahasa ibu.

Semoga informasi ini membantu ya!

Berfoto dalam rangka hari batik di University of Glasgow cloisters
(Sumber: Dokumen pribadi)

You Might Also Like

6 comments

  1. salah satu cita-citaku yang belum sempat kesampaian.
    namun informasinya dulu gak apa-apa :)
    terima kasih informasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, semoga tercapai cita-citanya.

      Delete
  2. Kak Aulia, boleh bertanya? Jika di UoG antara lecture, seminar, tutorial dan laboratory apakah ada porsinya masing2 Kak? Terima kasih informasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada, porsi seluruh tipe kelas dalam satu mata kuliah yang sama termasuk ke dalam SKS yang sama. Penilaian hanya berdasarkan tugas saja.

      Delete
  3. Halo kak Aul! Aku Nadia DP13. Wah sgt menginspirasi. Aku senang baca tulisan kak Aul, termasuk skripsinya topik yg unik dan totalitas bgt. Sempet baca essai LPDPnya kaka. Aku sdg mencari passion aku di DP, krn gak terlalu suka utk bikin produk. Sama seperti kak aul, aku ingin mengasah di bidang penulisan dan penelitian budaya/psikologi. Rencana ambil skripsi smt 8, januari esok. Kalau kak aul ada waktu luang pengen bgt bisa ngobrol2 soal skripsi dan penulisan di bidang desain. hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo maaf baru dibalas. Boleh, kirim email aja dulu ke auliaardista@yahoo.com tentang ide skripsi kamu, nanti aku kasih feedback yaa. Seneng juga nih ada yang tertarik bikin skripsi juga.

      Delete